Cerita seorang guru yang tidak diinginkan – Sore kali ini saya coba share sebuah cerita tentang perjuangan seorang guru dalam bertemu dengan pengawasnya di kantornya untuk berkonsultasi perihal tunjangan gurunya. Bila ada kesamaan cerita atau rangkaian kalimat, ini murni (pure) dari pikiran saya. Dan mohon dimaklum.

Sebelum kejadian ini terjadi, sebelumnya seorang guru berkomunikasi kepada pengawas guru lewat sambungan platform WhatsApp untuk menjadwalkan bertemu, dapat disimpulkan isi dari percakapan itu hari Rabu bertemu dengan pengawas ba’da dzhuhur. Hari berganti hari, dilalui oleh seorang guru tersebut.

Tibalah hari itu untuk bertemu, persiapan dimulai sampai dengan sarapan dan memanaskan kendaraan sudah selesai dan berangkat pada pukul 8.46 AM, schedule yang pertama, seorang guru ini hendak menengok rumahnya di daerah Kota Serang karena ditinggalkan selama pandemic Covid-19 ini. Sesampainya di rumah itu dilakukan bersih-bersih, menyalakan air semi jet pump-nya, biasanya kalau tidak dinyalakan dalam waktu yang lama, air tidak keluar, akan tetapi ini semua lancar mengisi bak kamar mandi, dan ember besar yang ada dalam kamar mandi, menyapu, mengepel dan membersihkan teras rumah depan yang banyak sekali debunya. Setelah semuanya bersih dan rapih semua yang tersambung dengan listrik dimatikan dan menyalakan lampu depan agar tetap terang halaman teras rumah.

Tujuan pertama adalah bertemu dengan pengawasnya, tapi tujuan berkata lain dan mempunyai pemikiran kita mendekati bulan suci Ramadhan, singgah ke tempat Toko Baju, yah bisa dibilang butik kali yah, mencari busana Muslimah untuk Hari Raya Idul Fitri nanti (lebaran). Busana yang ditandai sejak lama, stock-nya pun tidak ada di butik itu, dengan raut wajah sedikit kecewa, guru itu keluar dari butik dan melanjutkan ke tujuan utamanya.

Lihat juga:

Dalam perjalanannya sempat teringat anak semata wayangnya, dan ingin membelikan baju untuk anaknya. Mampirlah di took baju anak di daerah Kota Serang. Memilih baju yang cocok dan fashionable dari kaos, celana, dan baju dapatlah 3 stel baju. Waktu sudah beranjak cepat tanpa terasa, melaju ke tujuan untuk bertemu pengawas seorang guru itu dikantornya untuk konsultasi perihal tunjangan gurunya.

Sampai dikantornya, ia sambangi musholla yang berada di kantor pengawasnya untuk melaksanakan sholat dzuhur sampai dengan selesai, kemudian santai sejenak duduk diteras musholla sambil berkomunikasi apakah sudah sampai atau belum pengawas tersebut. Tanpa ada balasan, seorang guru itu menyambangi kantornya dan apa yang ia lihat ternyata kosong tidak ada. Ada yang menyapa atau bertanya kepada guru itu, mau cari siapa? Ia menjawab mau mencari pengawas S. oh coba di kontek nomor hpnya. Si guru pun coba menghubungi lagi tapi tidak dibalas alias tidak aktif.

Alur cerita berkata lain, dengan ekspresi yang bisa di prediksi oleh khalayak pembaca, ia pun pulang kerumah dengan kondisi Lelah. Istirahat sejenak dan rebahan di dalam kamar, kemudian mengiris-iris buah timun suri yang ia dapat dari kakaknya dengan di campur es batu, sirup dan susu putih. Hmmm terasa nikmat, dingin dan lejar. Kemudian tidak lama berselang di sela-sela santainya seorang guru itu menjawab pesan WhatsApp-nya, dan berkata “minta maaf lupa, saya ke kantor pagi hari. Saya kira tidak jadi kekantornya”.

Ada seseorang yang menasehatinya bila ingin bertemu dengan orang atau janjian dengan orang, apa salahnya kita coba mengkonfirmasi lagi apakah iya ada dikantor habis dzuhur. Bukan cerewet ataupun apa penilaiannya, akan tetapi ini memastikan (make sure) agar semua bisa sesuai rencana.

Demikian cerita ini saya buat. Kebetulan sore ini inspirasi terlintas dengan menulis cerita ini. Semoga cerita ini terhibur para khalayak pembaca.