jurnalartefak – Kusnadi menuliskan artikel tentang investasi pendidikan menurut pandangan tentang pendidikan yang terjadi di negara kita. ini sebagai bahan literatur untuk teman JA membutuhkan. semoga artikel ini menjadi penambah khazanah tentang pendidikan kita.

“Pendidikan terbaik masa depan adalah pendidikan yang men-share pengetahuan yang memberi kemampuan dan mempersiapkan kaum muda dalam menyelesaikan berbagai masalah yang kelak akan mereka temui sebagai orang dewasa di tengah masyarakat demokratis.” –Herbert Spencer

Berbagai komunitas yang peduli pendidikan tentu merasa miris dengan realitas pendidikan Indonesia. Sekolah-sekolah yang minim fasilitas, kumuh dan sewaktu-waktu dapat runtuh menimpa anak-anak kita, kesejahteraan guru yang mencemaskan, hingga infastruktur yang tidak memadai untuk bersaing dalam peradaban global. Semua ini pada akhirnya menciptakan derajat kualitas yang seadanya.

Makin tidak habis pikir, ketika pemerintah kita tidak kunjung memenuhi kewajiban 20% untuk anggaran pendidikan. Alokasi sebesar ini dipergunakan untuk menjamin pemenuhan salah satu hak asasi kita sebagai manusia; yaitu untuk memperoleh pendidikan yang menjadi modal bagi kita dalam meningkatkan taraf hidup ditengah persaingan global yang makin kompetitif.

Penundaan realisasi ini sepertinya bukan semata karena keterbatasan dana yang dimiliki pemerintah, atau demi menutupi kebutuhan lain yang lebih besar (seperti beban utang luar negeri ataupun belanja rutin penyelenggara Negara). Hal ini juga bisa dimaknakan dari pendekatan ekonomi yang digunakan pemerintah. Selama bertahun-tahun ekonomi yang mempengaruhi kekuasaan menganut neo-classical economic, yang sangat mengagungkan perumbuhan ekonomi. Dampaknya, pendidikan seringkali dianalisis dan ditempatkan dalam perspektif ekonomi.

Ketika William Easterly, seorang ekonom Bank Dunia dalam The Elusive Quest for growth (2002), menegaskan penemuannya tentang hubungan sebab akibat yang kecil dan bahkan tidak ada sama sekali antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dibanyak Negara. Maka pendidikan oleh penguasa dihakimi semakin tidak relevan dalam kerangka utama penggerak keberhasilan ekonomi suatu Negara. Investasi yang berlebihan bagi pendidikan tidak menjamin akselerasi positif pertumbuhan ekonomi. Dan lebih dari itu, pendidikan dianggap tidak berpengaruh signifikan pada pencapaian kesejahteraan masyarakat.

Hipotesis William Easterly ini dan diperkuat dengan agenda neo-liberalisme mendesak Negara untuk melakukan privatisasi pada sektor pendidikan. Dengan memperkecil perannya sebisa mungkin, dan memberi ruang yang lebih luas bagi kelompok swasta untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Benarkah demikian? Haruskah kita menilai peran pendidikan dalam tolak ukur ekonomi semata? Jawabannya, pendidikan tentu tidak semestinya ditafsirkan sesederhana itu dengan hanya dilihat dalam relasi-relasi ekonomi. Karena pendidikan berperan lebih tinggi dari itu, yaitu untuk menciptakan peradaban yang memiliki karakter dan moralitas.

Melalui penyebaran ilmu pengetahuan dan pola belajar secara idiom (berpikir, merasa dan bertindak sesuai tuntutan zaman), pendidikan menghasilkan dua modal utama bagi keberlangsungan suatu bangsa: sumber daya manusia yang berkualitas dan basis material (penuasaan teknologi) untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan.

Peran kompleksitas

Pendidikan yang baik bergerak dalam visi ‘pro bono humani generis’ (for the good mankind), dengan mensuplai masyarakat yang mampu hidup, beradaptasi serta belajar dengan cara-cara terbaik dalam dunia yang selalu berubah dengan cepat. Lingkungan belajar mengajar menggerakkan energi kreativitas dan inovasi, yang bukan semata ditunjang oleh lingkungan fisik yang memadai, tapi juga dari suasana yang mencerahkan dan merangsang setiap orang untuk berkreasi. Hasrat dalam menciptakan manusia-manusia kreatif inilah yang mendorong pendidikan berada di bagian terdepan dari akselerasi perubahan suatu peradaban.

Saat sekarang pendidikan Indonesia harus memegang tanggungjawab yang lebih banyak lagi. Pendidikan diharapkan ikut menyumbang kontribusi dalam menjaga eksistensi masyarakat kita. Jika kita dipaksa untuk membandingkan, sangat sedikit sistem sosial yang memegang peran strategis sebanyak pendidikan; mencerdaskan kehidupan masyarakat, penjaga rumah dudaya, sebagai kekuatan moral member pelayanan publik atas dasar kebaikan social, melakukan pendampingan bagi masyarakat, melestarikan nilai-nilai humanistic dan mengembangkan sistem masyarakat yang beradab, demokratis secara inklusif.

Rangkaian peran ideal diatas seharusnya menempatkan pendidikan sebagai arus utama, baik dalam strategi ataupun praksis pembangunan. Namun, alih-alih menjadi arus utama pendidikan kita malah tenggelam dalam kekacauan system yang berubah-ubah, komitmen yang setengah hati, dan berbagai persoalan taktis lainnya.

Kenyataan bahwa pendidikan terkesan dipinggirkan tampak semakin jelas, ketika penguasa meyakini bahwa pendidikan tidak berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pencapaian keberhasilan pendidikan yang hanya bisa ditentukan dalam waktu yang panjang, membuat investasi pendidikan bukan komoditas dagang yang layak jual dalam kerangka pembangunan ‘pragmatis’ yang kerap digunakan penguasa untuk kepentingan jangka pendeknya. Hal ini tentu semakin memperlemah daya tawar pendidikan kita dimata penguasa dan pengambil kebijakan.

Oleh karena itu agar peran pendidikan dapat mencapai hasil optimal di masa mendatang, maka kebutuhan untuk memberi perhatian yang lebih intens, melakukan perubahan mendasar dalam pendekatan ekonomi selama ini, dan menetapkan perencanaan sistem pendidikan yang jelas serta memadai semakin mendesak. Perbaikan lain yang juga penting adalah kearifan penguasa (dan juga masyarakat) yang mesti menerima kenyataan, bahwa hasil pendidikan baru bisa dituai berpuluh-puluh tahun mendatang. Kearifan sikap ini akan terus ditumbuh kembangkan melalui semangat perubahan.

Semangat yang termanisfestasi dalam masyarakat belajar (tenaga pendidik, siswa dan pemerintah) yang selalu merasa tidak puas, pemimpin yang memiliki visi pendidikan, dan proses pencapaian tujuan pendidikan yang jelas berdasarkan ‘peta perjalanan’ yang telah direncanakan. ***

Oleh Kusnandi