jurnalartefak – pada kesempatan kali ini admin mau berbagi artikel tentang penunda kronis. semoga artikel ini bermanfaat yah buat semuanya sebagai bahan literasi untuk kita atau sebagai bahan bacaan penambah khazanah.

Ketika Isaac Newton masih remaja, ilmuwan kebanggaan Inggris itu menunda menyatakan isi hatinya pada Victory anak gadis dari keluarga dimana Newton tinggal selama menempuh pendidikan di London. Selain karena tidak berani, Newton beralasan ingin berkonsentrasi untuk belajar. Padahal Victory jelas juga menyukainya. Sampai kemudian Victory menikah dengan orang lain, Newton tidak pernah mengungkapkan hasrat cintanya. Dan bahkan tetap membujang hinga akhir hayatnya.

Apa yang dilakukan oleh Sir Newton Isaac tersebut, yakni menunda sesuatu, pasti pernah juga kita alami. Menunda belajar, sampai kita harus ‘kebut semalam’ sebelum ujian. Menunda mengungkapkan isi hati pada orang yang kita suka. Menunda meminta maaf atau menolong orang lain. Menunda menghentikan kebiasaan buruk yang katanya terlihat keren; seperti merokok, mengkonsumsi napza, hingga begadang. Serta masih banyak contoh kebiasaan menunda lainnya dalam keseharian kita.

Menunda adalah manusiawi. Don Marquis seorang penyair amerika menyebut penundaan sebagai ‘seni’ manusia dalam menyanjung hari kemaren. Namun, dibalik sisi manusiawi dari tingkah laku menunda, ada juga yang disebut sebagai penunda kronis. Dalam istilah psikologi, penunda kronis dikenal mengidap the tomorrow syndrome.

Menunda kronis bukan sikap menunda seperti biasa. Tetapi karakter kepribadian atau kebiasaan yang melekatpada salah satu ruang mental kita. Karakter ini dapat mengakibatkan perasaan tidak puas, berpeluang merusak hubungan social, menghancurkan cita-cita ataupun membuat kita kerap merasa bersalah. Intinya, karakter mental ini menjebak kita di tempat yang sama tanpa kemajuan dan pertumbuhan.

Pemimpi yang malas

Jika kita menyempatkan waktu untuk diri sendiri, dan kemudian berusaha mengevaluasi diri maka kira-kira akan seperti apakah gejala-gejala penunda kronis terebut? Frank J. Bruno melalui buku tematiknya, Phsychological symptoms, membantu kita mengidentifikasi hal-hal spesifik yang mencirikan seorang penunda kronis.

Penunda kronis, menurut Dr. Bruno suka bekerja tergesa-gesa di detik-detik terakhir. Mereka seperti senantiasa dikejar-kejar oleh deadline, dan seakan tidak memiliki cukup waktu dalam melakukan setiap hal. Mereka kerap melakukan tingkah laku yang menghamburkan waktu, mengkhayal dan berharap tanpa melakukan sesuatu.

Penunda kronis tinggal dalam mimpi yang malas, dengan kepala penuh rencana yang tidak realistis, tetapi tanpa melakukan apa-apa. Seringkali mereka sekedar berbicara dan memikirkan sesuatu, tanpa segera bertindak. Dan gejala sekaligus akibat erburuk adalah ketidakmampuan dalam mencapai prestasi penting dalam hidup.

Jika gejala yang disebutkan diatas sepertinya menjadi bagian dalam diri kita, maka penting juga untuk menghentikan kebiasaan menunda tersebut. Sebelum nantinya kita menyesal dan melewatkan banyak hal-hal penting dalam hidup. Yang paling mendesak dalam mengendalikan kebiasaan menunda seperti disarankan oleh James R. Sherman dalam buku Stop Procrastinating-nya adalah bertindak tanpa banyak bicara.

Ketika mengerjakan sesuatu kita akan lebih efektif dengan menggunakan  pendekatan ‘task oriented’. Dimana rangkaian dan keberhasilan pekerjaan kita diukur serta dikendalikan berdasarkan tugas yang harus kita kerjakan, buka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Dalam banyak hal di hidup ini, kita sebaiknya menetapkan tujuan yang realistis, dan dapat dikelola dengan menyenangkan. Toh, kita uga jarang sekali mencapai tujuan yang tinggi hanya dalam satu kali lompatan.

Self discovery

Bagian tersulit bagi penunda kronis adalah keluar dari wilayah ‘amannya’. Karena kebiasaan menunda seringkali terjadi pada tugas-tugas atau sesuatu yang baru, yang memungkinkan munculnya kecemasan dan ketakutan akan kegagalan. Seperti nembak gadis cantik di sekolah, masuk ke dalam lingkungan baru, mencoba kebiasaan-kebiasaan baru, ataupun mengungkapkan pendapat didepan banyak orang.

Untuk mengatasi hal yang satu ini, Dr. Bruno menegaskan bahwa kita terjebak dalam paradigma ‘yang meminta kita untuk mengatasi kecemasan dulu, baru kemudian bertindak’. Padahal, jika kita mulai bertindak sebelum merasakan cemas, kita akan menemuka bahwa tindakan itu akan mengurangi kecemasan dan membangun kepercayaan diri kita. Sehingga sesekali bertindaklah terlebih dahulu, baru berpikir dan merasakannya.

Kita mungkin akan terkejut, bahwa kita dapat menemukan kualitas diri atau talenta tersembunyi kita secara sederhana, melalui suatu tindakan yang kita lakukan. Kita belajar dengan mempraktekkannya. Dan bahkan, hasil dari pola tingkah laku ini dapat membantu kita dalam mengenali diri, yang biasanya disebut sebagai self discovery. Bagaimanapun, sama seperti kebanyakan ‘terapi tingkah laku instan’ yang marak belakangan ini, merubah kebiasaan ‘menunda kronis’ menjadi sangat bergantung pada diri kita.

Keberhasilan merubah kebiasaan buruk sebagian besar terletak pada kemampuan untuk memanfaatkan energy swa-bantu (self-help) kita. Bagaimana kita menolong diri sendiri, mengendalikan dan mengarahkan hidup kita menjadi lebih baik. Karena musuh terbesar yang mesti kita taklukkan terlebih dahulu adalah diri kita sendiri. ***

Oleh Sentral Muda Lembaga Semi Otonom FOSIL HIMATA Bandung Raya